BRIN Dorong PKR Biomassa Dan Biorefineri Lakukan Penguatan Sinergi – BRIN

Cibinong – Humas BRIN.  Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biomassa dan Biorefineri yang digawangi BRIN melalui Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk dan Universitas Padjadjaran baru saja menghelat kegiatan Temu Nasional dan Focus Group Discussion dengan mengusung tema “Temu Nasional dan Focus Group Discussion untuk Mengimplementasikan Konsep Biorefineri di Indonesia melalui Pembentukan Pusat Unggulan Riset yang Inklusif, Kolaboratif, dan Global” pada Rabu (3/8) secara hybrid.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diwakili Agus Haryono selaku Plt. Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN menyampaikan kegembiraannya saat membuka acara. “Saya sangat senang karena ada lima universitas dan ada kementerian yang bergabung dalam PKR Biomassa dan Biorefineri. Artinya kekuatan-kekuatan yang ada di masing-masing stakeholder PKR ini akan memperkuat dan mengakselerasi rencana-rencana capaian,” ungkapnya.

Dirinya mendorong PKR Biomassa dan Biorefeniri melakukan penguatan sinergi. “PKR ini akan kita dukung pembiayaannya  5 – 7 tahun tergantung dari evaluasi yang kita lakukan.  PKR ini akan menjadi kolaborasi antara semua periset yang sejenis. Diharapkan  kita bisa saling terbuka dan saling support. Penguatan sinergi inilah yang kita inginkan dari konsep PKR ini,” tegasnya.

Ia menjelaskan, dibentuknya PKR ini salah satunya adalah untuk menghilangkan tumpang tindih riset. “Sekarang kalau kita lihat riset biorefineri di Indonesia banyak.  Kalau kita bisa kumpul di sini maka potensi tumpang tindih akan berkurang dan bisa efisiensi anggaran,” ucapnya.

Selain berkolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi pemerintah, PKR Biomassa dan Biorefineri juga didorong menjalin kolaborasi dengan mitra industri. “Kerja sama ini diharapkan mendorong proses hilirisasi riset semakin cepat,” sambung Agus.

Pada kesempatan yang sama Ketua PKR Biomassa dan Biorefineri, Efri Mardawati menerangkan bahwa PKR Biomassa dan Biorefineri bisa memanfaatkan semua fasilitas yang ada baik di BRIN maupun di perguruan tinggi seperti UNPAD, ITB, Universitas Brawijaya, Universitas Andalas, dan Universitas Hasanuddin. “Anggota PKR akan menggali, mengembangkan semua potensi yang ada. Kita berharap dari PKR ini akan menghasilkan karya-karya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga  BRIN Serahkan Pengelolaan Aset Kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara – BRIN

Sementara, Kepala Organisasi Riset (OR) Hayati Iman Hidayat turut mengungkapkan dukungan senada terhadap PKR Biomassa dan Biorefineri. Dia menyampaikan sebagai Kepala OR, saat ini tugasnya ada tiga, yaitu; melaksanakan riset di bidang biodiversitas, mentransformasikan riset bidang biodiversitas dan melakukan riset tentang biomassa.

BRIN sendiri memiliki tugas paling tidak ada tiga, yaitu membangun ekosistem riset, membangun critical mass periset, dan membangun daya saing riset dan inovasi. “Karena itu keberadaan PKR Biomassa dan Biorefineri sangat penting karena produk sampingan banyak sekali dan itu adalah komponen utama industri,” bebernya.

Kemudian Ajeng Arum Sari dari Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi mewakili Agus Haryono selaku Plt. Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN mengatakan bahwa tugas BRIN melakukan penelitian pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak hanya itu, BRIN juga memfasilitasi infrastruktur, pendanaan dan sumber daya manusia.

 “Kalau kita bicara mengenai riset dan inovasi, inovasi itu membutuhkan research and development dan harus sesuai dengan kebutuhan pengguna. Tidak hanya terkait dengan teknologi tetapi kebijakan yang dibutuhkan  oleh pemangku kepentingan. BRIN menerapkan open platform, dimana SDM unggul, infrastruktur dan anggaran dapat diakses oleh  semua pihak, baik oleh perguruan tinggi, masyarakat maupun industri,” ujar Ajeng.

Lebih jauh Ajeng mengatakan bahwa BRIN juga memiliki BRIDA sebagai agen penghubung riset di daerah. Harapannya, BRIDA yang menghubungkan masalah yang terkait dengan pengembangan daerah dan menyambungkan ke pusat riset-pusat riset di BRIN sehingga  perguruan tinggi ikut membangun daerahnya.

“Ketika kita berbicara fasilitas riset, awalnya mengenai riset murni yang menciptakan konsep publikasi dan HKI. Teknologi kunci ini membutuhkan pengujian yang memenuhi standar, regulasi dan sertifikasi. Inilah yang ada di BRIDA dan memang mitra industri yang bertugas komersialisasi dan mengurus izin edar dan benefit sharing yang meguntungkan semua pihak,”  papar Ajeng.

Baca Juga  BRIN Perkuat Kerja Sama dengan Universitas Leiden – BRIN

Kepala Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Akbar Hanif Dawam Abdullah turut menyampaikan materinya berjudul “Riset Kolaborasi Biomassa dan Bioproduk.” Dia menuturkan bahwa industri masa depan telah berubah. Material dan energi yang semula diproses dari minyak bumi (oil-refinery) dianggap tidak sustain. Teknologi pengganti (bio-refinery) dengan bertumpu pada biomassa sebagai bahan bakunya dianggap lebih sustain dan mampu menjawab tantangan masa depan.

“PKR Biomassa dan Biorefinery didesain untuk menjadi hub lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri untuk aktivitas riset-riset terkait. Semoga PKR ini mampu menjawab tantangan nasional mengingat Indonesia sangat kaya akan biodiversitas dengan sumber biomassa yang sangat melimpah,” pungkas Dawam. (ew/ ed.sl)

Leave a Comment