Bangun Ekonomi Daerah, BRIN Ajak Manfaatkan Teknologi Pengemasan Makanan Tradisional – BRIN

Jakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah, memberikan informasi, tentang pengembangan nilai tambah olahan pangan dengan teknologi pengemasan. Selain itu, memperkenalkan succsess story pengemasan Kuliner Legend, di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). BRIN melaksanakan webinar Seri 5: Diseminasi dan Bimtek Pemanfaatan Riset dan Invasi Daerah, mengangkat tema Teknologi Pengemasan Makanan Tradisional, dilaksanakan secara daring, Rabu (03/08).

“Pada webinar seri sebelumnya, kita berfokus pada ketahanan pangan. Sekarang, bukan sekedar pemenuhan kebutuhan esensial di masyarakat, tetapi pangan sebagai salah satu komoditas yang dapat membangun ekonomi di daerah,” ucap Plt. Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Wihatmoko Waskitoaji, ketika membuka webinar.

Wihatmoko mengatakan pihaknya secara khusus mengundang narasumber dari Dinas Perindustrian Prov. NTB, yang akan menyampaikan makalah tentang Geliatkan Industrialisasi NTB Melalui Pengembangan Kuliner yang Berlegenda. “Kita juga mengundang narasumber BRIN, untuk memberikan paparan mengenai nilai tambah bahan pangan, dengan teknologi pengemasan, yang didasari pada pemahaman yang baik, tentang saintifik di belakangnya,” bebernya.

Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Aldicky Faizal Amri menyampaikan bahwa pengemasan adalah sistem yang terkoordinasi, untuk menyiapkan bahan atau barang menjadi siap didistribusikan, ditransportasikan, disimpan, dijual, dan dikonsumsi. Sedangkan, fungsi pengemasan, yaitu: promosi, melindungi kualitas produk, estetika, dan edukasi.

“Dalam proses pengemasan makanan dan minuman dalam kemasan, ada beberapa kategori, seperti: proses thermal konvensional, aseptik, proses thermal modern, dan non-thermal modern. Kategori yang sudah kami kembangkan selama ini, yaitu proses thermal konvensional,” ungkapnya.

Hal ini, lanjut Aldicky, berpusat pada pemanfaatan riset sterilisasi, untuk meningkatkan nilai tambah. Peran dan fungsinya, untuk melindungi bahan pangan segar, maupun bahan pangan olahan, dari penyebab kerusakan secara fisik, kimia, dan mekanis. “Fungsi utamanya, untuk mempertahankan bahan dalam kondisi higienis, dan bersih, mempertahankan gizi produk yang terkemas, media informasi, dan promosi,” lanjutnya.

Baca Juga  Konservasi Tumbuhan Terancam Kepunahan, Salah Satu Fokus Riset BRIN Bidang Lingkungan Hidup – BRIN

Dari fungsi pengemasan tadi yang menjadikan aktifitas nilai tambah, ada beberapa parameter yang harus diperhatikan oleh para pengolah. Pada saat proses produksi yang dijadikan standar kualifikasi oleh Badan POM, dalam peraturan perundangannya. “BPOM melihat apakah proses yang penting ini sudah bisa dipenuhi oleh para UKM, karena terkait faktor keamanan. Parameter berikutnya, yang harus disikapi dengan baik oleh UKM, maupun kami, sebagai pihak yang mengembangkan teknologi, adalah waktu pengemasan, temperatur, dan kebersihan,” paparnya.

Jenis-jenis kemasan yang digunakan BRIN, katanya, hingga saat ini dengan sistem pengalengan. Keunggulannya memiiliki masa simpan yang lebih lama, namun lebih berat, dan prosesnya cukup kompleks. Otomatis diakomodir dengan nilai tambah yang tinggi untuk produk makanan tradisional yang dikemas dengan menggunakan kaleng.

Kepala Dinas Perindustrian NTB, Nuryanti memaparkan bahwa bahan dari pertemuan ini ada feed back, yang didapatkan bisa mendorong kembali geliat ekonomi pasca pandemi, melalui pengemasan kuliner legend. “Hal ini sudah kami rasakan di tengah pandemi sudah memulai ikhtiar. Kuliner NTB itu yang biasanya rame, sama sekali tidak mendapatkan omzet yang memadai, bahkan merumahkan karyawan,” katanya datar.

Saat itu lah, lanjut Nuryanti, pihaknya berinisiatif, untuk melakukan pengemasan sebagaimana yang dilakukan oleh LIPI, sekarang sudah menjadi BRIN. Bimbingan dan pendampingan dari BRIN, dan perguruan tinggi, akhirnya memberikan kepastian ekonomi bagi pelaku UMKM di NTB.

“Kuliner kita di NTB memang sangat signifikan, meningkatkan ekonomi. Ketika mampu mengemas kuliner legend ini, maka akan banyak sektor lain yang menjadi ikutannya. Sejalan dengan perencanaan kami di Dinas Perindustrian, searah dengan industri prioritas nasional,” tuturnya.

Saat ini, ia melanjutkan, kuliner legend merupakan salah satu program industrialisasi unggulan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB. Pemerintah, melalui Dinas Perindustrian terus mendukung, dan memberikan pendampingan tentang peningkatan kualitas, sehingga bisa bersaing di pasar internasional. Mendorong  lahirnya produk hilir, berupa kuliner legend dalam kemasan, sehingga tahan lebih lama.

Baca Juga  BRIN Beri Rekomendasi Rencana Indonesia Menuju NZE 2060 pada Konferensi Energi Hidrogen Dunia – BRIN

“Kami sangat terbantu, dengan adanya riset-riset yang dilakukan oleh BRIN. Kami menginisiasi, harus ada intervensi teknologi, agar kuliner ini bisa bertahan lama. Bahkan menjadi oleh-oleh, dan bisa menyasar ke pasar-pasar di luar daerah. Kami juga mengembangkan industri kuliner dalam kemasan, semuanya dengan bahan baku menggunakan produk-produk lokal. Kecuali alat-alat yang memang teknologinya masih relatif tinggi, seperti sterilisasi,” pungkasnya. (ns/ed; jml)

Leave a Comment