Mengenal Zoonosis, Riset, dan Pencegahannya – BRIN

Jakarta – Humas BRIN. Di tengah pandemi COVID-19 yang belum usai, kini masyarakat dihantui dengan penyakit cacar monyet. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) bahkan telah menyatakan bahwa wabah cacar monyet berstatus darurat kesehatan global.

COVID-19 dan cacar monyet merupakan dua dari ratusan contoh penyakit zoonosis. Lalu, apa itu zoonosis? Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan peningkatan risiko zoonosis? Sejauh apa riset yang dilakukan terkait zoonosis di Indonesia?

Zoonosis adalah penyakit yang ditularkan dari hewan, baik hewan liar, hewan ternak, maupun domestik (hewan peliharaan), ke manusia. Patogen yang ditularkan pun bisa berupa bakteri, virus, parasit, dan jamur.

Menurut WHO, setidaknya 6 dari 10 penyakit menular yang ada saat ini merupakan zoonosis. Bahkan, 3 dari 4 penyakit infeksi baru pada manusia bersumber dari hewan.

Jumlah penyakit baru yang ditularkan dari hewan terus bertambah setiap tahunnya. Menurut WHO (who.int), diperkirakan terdapat lebih dari 200 jenis penyakit zoonosis di dunia saat ini. Beberapa penyakit zoonosis yang sudah kita kenal, diantaranya penyakit flu, nipah, virus Hendra, rabies, malaria, leptospirosis, COVID-19, hingga yang teranyar, cacar monyet.

Peneliti Ahli Muda, Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pandji Wibawa Dhewantara menjelaskan, penularan zoonosis bisa melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan tersebut. Kontak langsung misalnya, akibat paparan langsung dengan darah, saliva atau air liur, tinja, atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang terinfeksi. Dokter hewan dan peternak merupakan salah satu profesi yang berisiko tinggi dalam penularan secara kontak langsung ini.  

Sedangkan penularan melalui kontak tidak langsung dapat terjadi melalui berbagai medium perantara. Misalnya, kita tidak sengaja mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi urin atau saliva dari hewan yang terinfeksi. Selain itu, penularan juga dapat terjadi akibat kontak dengan tanah, air, dan lumpur yang sudah terkontaminasi patogen. Patogen dapat masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir, mata, atau bekas luka.

Penularan juga dapat terjadi melalui hewan perantara, umumnya berupa serangga. Malaria zoonotik misalnya, merupakan penyakit infeksi parasit Plasmodium knowlesi yang bersumber dari primata seperti monyet ekor panjang dan kera, lalu ditularkan ke manusia melalui perantara gigitan nyamuk Anopheles. Malaria yang kita kenal saat ini, awalnya bersumber dari hewan primata yang kemudian ditularkan ke manusia melalui serangga.

“Nyamuk menghisap darah primata (yang terinfeksi). Kemudian, misalnya, ada pemburu atau masyarakat yang masuk ke hutan. Tidak sengaja tergigit oleh nyamuk Anopheles yang sudah membawa parasit Plasmodium tadi,” jelas Pandji.

Diketahui beberapa hewan seperti kelelawar, tikus, primata, babi, dan unggas, memang dikenal secara alami membawa atau menjadi reservoir patogen, yang dapat ditularkan baik ke hewan lainnya maupun ke manusia. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh patogen virus, misalnya, penyakit Nipah, Hendra, Ebola, MERS-CoV, dan SARS-CoV diketahui bersumber dari kelelawar.

Selain itu, serangga seperti nyamuk, dan mamalia seperti babi, kuda, primata, dan unta dapat menjadi inang perantara penularan penyakit zoonosis dari hewan ke manusia.

Lingkungan Hingga Budaya, Pemicu Zoonosis

Sebagian besar penyakit zoonotik timbul karena didorong oleh faktor lingkungan. Kemunculannya dipicu oleh aktivitas dan interaksi manusia itu sendiri terhadap alam, seperti perambahan hutan, perubahan tata guna lahan untuk pertanian, industri, dan pemukiman akibat tekanan penduduk, konsumsi satwa liar, dan urbanisasi.

Baca Juga  BRIN Dorong Pengembangan Inovasi Teknologi Varietas Unggul Tanaman Hortikultura dan Perkebunan – BRIN

Sugiyono Saputra, Peneliti Ahli Pertama dari Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN menjelaskan, loncatan patogen dari hewan ke manusia (spillover) dapat terjadi karena adanya interaksi, baik langsung ataupun tidak langsung antara reservoir alami (hewan pembawa patogen) dengan hewan lainnya maupun manusia.

“Dengan adanya interaksi, patogen yang dibawa oleh reservoir alami (satwa liar) juga berpotensi ditransmisikan ke hewan lainnya (ternak atau domestik) kemudian ke manusia, atau ditransmisikan langsung dari satwa liar ke manusia,” terang Sugiyono.

Adanya deforestasi misalnya, membuat habitat asli dari satwa liar tersebut terganggu dan berisiko meningkatkan kontak antara manusia dan satwa liar. Perburuan dan perdagangan satwa liar juga meningkatkan risiko penularan penyakit. Virus Hendra yang pernah muncul di Australia, salah satunya juga dipicu oleh fragmentasi hutan dan urbanisasi. 

Faktor budaya atau kearifan lokal setempat juga tidak bisa dielakkan menjadi salah satu penyebab munculnya zoonosis. Literatur mengungkapkan bahwa Human Immunodeficiency Virus (HIV), virus penyebab AIDS pada manusia, ternyata berasal dari hewan primata.

Wabah AIDS pertama kali terjadi pada tahun 1920 di Kinshasa, Republik Kongo. Dalam sebuah penelitian oleh Sharp dan Hahn (2011), ditemukan adanya kesamaan karakteristik molekuler, dimana HIV sama dengan Simian Immunodeficiency Virus (SIV) yang ditemukan pada primata, seperti simpanse, kera, gorila, dan monyet.

Kemungkinan penularan virus bisa terjadi dari primata ke manusia, antara lain karena kebiasaan masyarakat setempat yang mengonsumsi daging mentah primata, serta maraknya perburuan dan perdagangan satwa liar di kala itu. Di sisi lain, mobilitas migran dan perdagangan seks (sex trade) semakin mendorong penyebaran virus dari Kinshasa. Penularan HIV dapat terjadi melalui cairan tubuh, seperti darah, semen (cairan sperma), plasenta, dan air susu ibu.

Di Indonesia, kita pun tidak menutup mata bahwa masih ada perdagangan satwa liar seperti pada beberapa pasar tradisional (wet market) ataupun pasar burung, yang masih menjual satwa liar baik untuk diambil dagingnya (bushmeat) ataupun untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan. Khusus untuk bushmeat, adanya faktor budaya, kebutuhan pangan, dan peningkatan populasi inilah yang dapat mendorong masyarakat untuk mencari sumber protein lain, yaitu dengan mengonsumsi daging dari satwa liar.

“Tanpa pengolahan dan proses pematangan yang baik, maka potensi terinfeksi penyakit zoonosis akan semakin tinggi,” kata Pandji.

Hal senada dikatakan oleh Sugiyono. Selain adanya interaksi dengan reservoir alami pembawa patogen, dan faktor budaya setempat, tingkat biosecurity (tindakan pencegahan agar patogen tidak bertransmisi ke manusia), sanitasi dan kebersihan yang rendah juga dapat meningkatkan risiko terkena infeksi zoonosis.

Potensi Indonesia sebagai Hotspot Zoonosis

Indonesia merupakan negara ke – 4 dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Adanya kebutuhan pangan manusia yang kian meningkat, mendorong perubahan tata guna lahan ataupun deforestasi untuk lahan pertanian ataupun industri. Adanya disparitas ekonomi antarwilayah juga mendorong laju urbanisasi. Selain itu, emisi Gas Rumah Kaca (GRK) makin meningkat, salah satunya disebabkan oleh sektor transportasi. Semua faktor tersebut pada akhirnya berakumulasi mendorong pemanasan global dan perubahan iklim.

“Perubahan iklim pada akhirnya akan mengamplifikasi risiko penularan zoonosis itu sendiri,” tutur Pandji. 

Secara geografis, letak Indonesia dilewati oleh garis zamrud khatulistiwa dan memiliki iklim tropis. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun dibalik keberkahan itu, ada risiko zoonosis yang juga perlu diwaspadai.

Baca Juga  BRIN Terima Alih Status Penggunaan BMN dari Kementerian ESDM – BRIN

“Artinya, host atau reservoir alami yang membawa patogen berbahaya juga kemungkinan jumlah dan jenisnya jauh lebih banyak dibandingkan daerah lain,” ungkap Sugiyono.

Faktor kelembapan, curah hujan, dan temperatur di suatu daerah juga akan memengaruhi kemunculan patogen tersebut. Dalam sebuah penelitian di Eropa mengenai sensitivitas iklim terhadap patogen (McIntyre at al., 2017) yang di publikasikan di Scientific Reports, disebutkan bahwa, 63 persen dari patogen sensitif terhadap iklim dan sekitar 82 persen diantaranya dipengaruhi oleh kelembapan, curah hujan, dan temperatur.

“Memang tempat yang lebih hangat cenderung disukai oleh beberapa patogen, terutama yang ditransmisikan melalui vektor,” kata Sugiyono.

Kaitan antara imbas perubahan iklim dan risiko transmisi virus antarspesies juga dikemukakan dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Carlson, C. J. et al. tahun 2022 (nature.com). Sandi Sufiandi, Pbt. Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, menjelaskan, studi ini mensimulasikan kemungkinan skenario interaksi dari 4 layer, yaitu virus, hewan, manusia, dan lingkungan. “Studi ini mensimulasikan potensi spillover dari zoonosis itu sendiri,” ungkap Sandi.

Pada studi tersebut disebutkan, setidaknya ada 10 ribu spesies virus memiliki kapasitas untuk menginfeksi manusia, yang bisa ditransmisikan melalui sekitar 3.139 spesies mamalia yang kebanyakan bermukim di daerah tropis. Negara dengan iklim tropis dan jumlah penduduk padat seperti India dan Indonesia, memiliki risiko tinggi dalam penularan penyakit zoonosis.

“Studi ini sebagai acuan kita untuk merespons, dari ribuan spesies mamalia tersebut, potensi risiko terbesar salah satunya di Indonesia. Sehingga dengan basis ini, kita bisa membuat skenario mitigasinya seperti apa,” jelas Sandi.

Di sisi lain, demografi penduduk, masalah malnutrisi dan penyakit tidak menular (komorbid) di masyarakat juga turut memengaruhi tingkat risiko penularan maupun keparahan akibat zoonosis itu sendiri. “Populasi penduduk muda dengan mobilitas tinggi, dan juga populasi lansia yang rentan akan memengaruhi variasi imun dan laju penularan penyakit, ditambah masalah malnutrisi pada anak-anak dan juga komorbid, membuat risiko penularan dan beban penyakit infeksius di Indonesia berpotensi cukup tinggi,” tutur Pandji.

Risiko zoonosis juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan ekonomi masyarakat, seperti perilaku hidup bersih dan sehat dan kemiskinan atau ketidakmerataan ekonomi.  Selain itu, juga ditentukan oleh ketangguhan sistem kesehatan dalam mendeteksi, merespon, dan mengendalikan penyakit.

Riset, Monitoring, hingga Pemetaan Zoonosis di Indonesia

Penelitian terkait zoonosis terus berkembang. Saat ini, Pandji dan tim yang terlibat dalam Kelompok Riset Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis, sedang melakukan kajian sistematik mengenai kaitan perubahan iklim dengan penyakit tular vektor dan zoonosis di Indonesia. Mengingat, Indonesia merupakan salah satu negara yang risiko penularannya cukup tinggi. Selain itu, juga dilakukan studi-studi lanjutan bersama Kementerian Kesehatan dan universitas terkait malaria zoonotik, leptospirosis, dan Japanese encephalitis.

Budaya setempat yang masih menjual bebas satwa liar baik untuk dikonsumsi ataupun untuk hewan peliharaan juga dapat menjadi jalur penularan zoonosis. Sugiyono saat ini menjadi ketua peneliti untuk surveilans potensi penyakit zoonosis potensial dan penyakit menular di Indonesia, terutama yang berasal dari satwa liar yang diperdagangkan. “Project ini berkolaborasi dengan Australian Centre for Disease Preparedness (ACDP)-CSIRO, Australia. Jadi kita memonitor virus yang berpotensi menimbulkan pandemi di masa yang akan  datang, terutama dari virus yang berasal dari kelelawar, tikus, burung, dan beberapa hewan lain,” jelas Sugiyono.

Baca Juga  BRIN Tawarkan Skema Alih Teknologi dengan Perjanjian Lisensi – BRIN

Sugiyono dan tim melakukan survei di beberapa pasar hewan yang memperdagangkan satwa liar, antara lain di daerah Sulawesi dan Jawa. Adanya percampuran spesies, baik yang membawa patogen berbahaya atau tidak, interaksi antar hewan dan manusia serta lingkungan di pasar tersebut, menurut Sugiyono, akan menjadi titik risiko tinggi terjadinya spillover atau transmisi patogen dari hewan ke manusia.

“Dari kegiatan ini, nanti kita bisa karakterisasi ada patogen apa di sana (pasar), apakah ada virus Corona, Nipah, influenza, dsb. Karena kita tidak pernah tahu kapan akan terjadi spillover tersebut, makanya harus terus kita pantau,” jelas Sugiyono.

Untuk mendukung riset terkait zoonosis, saat ini BRIN juga sedang melakukan pemetaan keanekaragaman genetika. Dengan kemampuan whole genome sequencing, penyimpanan data spesimen, dan kemampuan bioinformatika, akan mengakselerasi dan membuka peta keanekaragaman genetika, khususnya virus. “Karena dari informasi genetik virus, kemudian ditranskipsikan dan seterusnya hingga menjadi protein. Dengan kita mengetahui protein yang terlibat, kita bisa melakukan penelitian untuk merespons kemunculan zoonosis itu, baik itu penelitian dengan menggunakan vaksin, atau imuno yang meningkatkan imunitas,” jelas Sandi.

Kolaborasi Multidisiplin Cegah Zoonosis

Pengendalian zoonosis tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Terlebih, jelas Pandji, beberapa penelitian sedang mengungkapkan adanya kemunculan reverse zoonosis. Artinya, penularan penyakit tidak hanya terjadi dari hewan ke manusia, bahkan dari manusia bisa ditularkan kembali ke hewan.

Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, konsep One Health terus didengungkan di tingkat global. “One Health pada intinya adalah bagaimana kita bisa mencegah dan mengendalikan penyakit dilihat dari 3 aspek, yaitu aspek kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan,” jelas Pandji.

Misalnya, ketika kita menanggulangi rabies, tentu kita tidak bisa hanya fokus pada sektor peternakan atau sisi kesehatan hewan saja, dengan memberikan vaksinasi pada anjing. Di sisi lain, kita perlu memberikan edukasi kepada masyarakat untuk memberikan vaksin pada anjing peliharaannya, menjaga kesehatan lingkungan, dan memastikan masyarakat dapat mengakses obat atau terapi akibat gigitan anjing, sehingga penularan rabies dapat dikendalikan.

Implementasi regulasi terkait perdagangan satwa liar dan konservasi juga perlu terus ditegakkan. Perlunya strategi komprehensif dari pemerintah untuk terus menyosialisasikan risiko zoonosis berbasis kearifan lokal, dengan melibatkan masyarakat setempat.

Monitoring atau surveilans terhadap kemunculan penyakit infeksi baru juga perlu terus diperkuat. Riset terkait bidang kesehatan, perbaikan infrastruktur dan kesiapsiagaan dalam menghadapi penyakit infeksi baru, dan riset terkait obat-obatan memerlukan kolaborasi tidak hanya di tingkat nasional, melainkan di tingkat global.

“Yang kami lakukan sekarang salah satunya akan membantu pemerintah dan juga secara global dalam memonitor patogen berbahaya dari satwa liar. Hasilnya nanti bisa dijadikan basis atau bukti bahwa perdagangan satwa liar untuk konsumsi, serta adanya interaksi di dalamnya memang berisiko tinggi terjadinya spillover,” kata Sugiyono.

Dengan data keanekaragaman genetika, proses pengolahan menjadi data digital dari sampel melalui kemampuan bioinformatika, dan kolaborasi riset obat-obatan dan imuno, menurut Sandi, akan menjadi modal dasar dalam menjawab tantangan munculnya zoonosis. “Saya pikir pemahaman melihat fenomena interaksi hewan, manusia, dan virus di satu lingkungan yang sama akan membuat tindakan mitigasi bisa sistemik, agar ketahanan kesehatan bangsa kita semakin kuat,” tutup Sandi (tnt).

Leave a Comment