Kemasan Berkualitas Ubah Produk UMKM Bernilai Jual Tinggi – BRIN

Bandung – Humas BRIN. Pengemasan berkualitas diperlukan untuk mengubah suatu produk makanan bernilai jual tinggi. Di samping juga, tetap memperhatikan produk tersebut aman dari bakteri dan tanpa pengawet, rasanya lezat, mengandung gizi, dan berpenampilan menarik baik itu tekstur, warna, ukuran, dan bentuknya. Hal itu disampaikan Asep Nurhikmat selaku instruktur pada kegiatan pelatihan pengemasan makanan bagi pelaku Usaha Miko Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Bandung Barat, Rabu (3/08).

Kegiatan yang merupakan rangkaian Program Berbakti untuk Negeri 2022 ini diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Komisi VII DPR RI. Sejumlah masyarakat pegiat UKM hadir untuk menggali potensi pengembangan produk UMKM. Pada kesempatan ini, peserta juga memperoleh pengarahan produk makanan yang dikembangkannya dengan membawa contoh hasil produksinya masing-masing.

Pada sesi seremoni pembukaan acara, Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, selaku perwakilan pimpinan BRIN mengenalkan ruang lingkup riset yang dilakukan BRIN. Ia menjelaskan, riset-riset BRIN harus lebih efektif pelaksanaannya dan berdaya guna, karena para periset sudah bersaing secara global.

“Kini para periset tidak cukup melakukan itu saja, akan tetapi juga menghasilkan riset yang berguna untuk masyarakat. Untuk itu, BRIN berkolaborasi dengan DPR RI agar seluruh hasil riset bisa dimanfaatkan masyarakat secara langsung melalui pemetaan kebutuhan yang disampaikan oleh DPR RI selaku wakil rakyat,” bebernya.

Anggota Komisi VII DPR RI, Rian Firmansyah menyebutkan peran masyarakat sangat krusial dalam meningkatkan perekonomian daerah. Maka dari itu, dia berharap agar para pelaku UMKM dapat mengembangkan potensinya dengan berbekal ilmu yang diperoleh dalam pelatihan tersebut.

“Saya harap, peserta tidak hanya menyimak pelatihan saja namun juga menindaklanjuti dengan keseriusan sehingga dapat diaplikasikan dalam mengemas produk makanan masing-masing. Pengemasannya harus profesional serta dijamin kesehatan dan kehalalannya agar konsumen tidak ragu,” tegasnya.

Baca Juga  PEMBUKAAN PENGHARGAAN HABIBIE PRIZE 2022 – BRIN

Rian menambahkan, para pegiat UMKM agar punya kerangka pikir produktif. Salah satunya bisa membuat kemasan yang menarik serta memanfaatkan media komunikasi untuk penawaran produk. Dengan demikian, produknya akan lebih mudah menembus konsumen sesuai sasaran. Apalagi, Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat konsumsi tinggi.

Kegiatan pelatihan diawali dengan paparan tentang pengemasan makanan tradisional oleh Asep Nurhikmat dan Agus Susanto dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN. Asep menjelaskan, proses pengemasan produk makanan itu sendiri melalui pentahapan mulai dari penutupan, sterilisasi, pendinginan, karantina, hingga sebuah produk menjadi produk kemasan yang layak jual. Tujuan lain dari pengemasan ini yaitu untuk mengawetkan produk makanannya. “Contohnya, pengemasan makanan kaleng yang usia kelayakan konsumsi dengan paparan udara bebas cuma dua hari, ketika sudah dikemas kaleng bisa menjadi dua tahun,” ujarnya.

Asep mengatakan, para penghasil produk harus memiliki strategi dalam memilih bahan pembungkus kemasan dan memahami betul pentahapan pengemasan. “Satu hal lagi yang sangat penting yaitu pemilihan bahan baku yang juga sangat menentukan awet tidaknya makanan tersebut dikemas. Maka, carilah bahan yang fresh karena pasti terjamin bagus kualitasnya,” terangnya.

Untuk mengemas produk makanan memang ada standarnya. SOP pengemasan makanan tersebut, kemudian, dipaparkan oleh Agus Susanto. Agus memberikan gambaran SOP pengemasan mulai dari preparasi bahan, pemasakan bumbu, pengisian seluruh bahan, pemanasan, penutupan kaleng, sterilisasi, pendinginan, dan terakhir proses karantina.

Di sela-sela paparan, para instruktur ini berinteraksi aktif dengan peserta melakukan tanya jawab tentang kendala dan kiat-kiat yang harus dilakukan oleh para pelaku UMKM. Asep maupun Agus juga sesekali menunjukkan contoh hasil produk BRIN yang sudah dipatenkan dan diproduksi oleh UMKM di berbagai daerah. Untuk mengarahkan teknik pengemasan yang baik, peserta juga diberikan kesempatan mem-presentasi-kan produk makanannya untuk ditinjau kelayakan bahan kemasannya. (And/ed; jml)

Baca Juga  Upaya Bersama dalam Penanganan Bencana Tidak Mengenal Batas Negara – BRIN

Leave a Comment