Potensi Riset Cacar Monyet, Peneliti BRIN Kembangkan Rapid Detection, Obat, dan Vaksin – BRIN

Cibinong – Humas BRIN. Riset terkait kesehatan merupakan salah satu domain yang dilaksanakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Kesehatan (ORK). Salah satu peran ORK adalah merespons isu-isu kesehatan melalui riset dan inovasi. Isu kesehatan seperti Cacar Monyet menjadi hal yang layak untuk diangkat dari sisi riset, khususnya pada Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis. Hal ini diungkapkan Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti saat membuka webinar Talk to Scientists berjudul “Cacar Monyet, Darurat Kesehatan Global, dan Apa yang Perlu Kita Ketahui?”, Selasa (02/08).

Dirinya menambahkan, riset serta kajian ilmiah terbukti telah menjadi benteng dalam meminimalisir kepanikan masyarakat akibat minimnya informasi terhadap penyakit menular. Cacar Monyet memang masih menjadi pertanyaan publik, karena informasi masih beragam. Oleh karena itu, riset terkait penyakit ini penting untuk diketahui publik, termasuk gejala, dan apa yang perlu dipersiapkan.

Peneliti Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN, Zulvikar Syambani Ulhaq sepakat bahwa riset terkait penyakit ini penting untuk dilakukan. Walaupun kasus ini belum ditemukan di Indonesia. “Perlu adanya kewaspadaan dan kesiapsiagaan yang baik apabila kasus ini muncul. Salah satu pelajaran berharga yang dapat dipetik, ketika pandemi COVID-19 melanda adalah riset akan kembali menjadi pilar dalam pencegahan penyebaran penyakit, termasuk Cacar Monyet,” terangnya.

Doktor lulusan Kumamoto University Jepang ini juga menjelaskan, saat ini terdapat beberapa potensi riset yang mungkin dapat dikembangkan untuk Cacar Monyet. Riset yang paling penting adalah pengembangan rapid detection, misalnya tes cepat untuk para turis yang datang ke Indonesia.

Selanjutnya ia juga menambahkan, potensi riset lainnya yang dapat dilakukan adalah melakukan pencatatan gambaran klinis, deteksi kasus dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan sequencing jika terjadi mutasi pada virus. Tak hanya itu, kerja sama juga perlu dilakukan dengan Kementerian Kesehatan untuk mengetahui efektivitas vaksin dan pengobatan, serta pengembangan obat pemulihan pasca Cacar Monyet.

Baca Juga  BRIN dan Universitas Osaka Kaji Bersama Food Loss Kakao dan Kopi – BRIN

Lalu tindakan apa yang perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap Cacar Monyet? Reza Yuridian Purwoko, periset yang juga berasal dari pusat riset yang sama menuturkan, sejak penyakit ini berada dalam tubuh manusia, penyakit ini berpotensi untuk menular. Namun, penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya jika imunitas tubuh kuat.

“Sama halnya seperti menghadapi COVID-19. Jika terkonfirmasi positif, dapat dilakukan upaya pelacakan, deteksi dini dan isolasi mandiri. Sedangkan perilaku menjaga protokol kesehatan, hidup bersih dan menghindari seks bebas menjadi keharusan. Vaksin Cacar Monyet di negara lain sudah ada, namun cost benefit-nya masih diuji dan belum untuk massal. Jadi, vaksin bukan segalanya,” ujarnya.

Saat ini, beberapa negara sudah terkonfirmasi kasus Cacar Monyet dan menyebabkan kematian. Namun dari segi pemberitaan, perlu konfirmasi level of evidence-nya. “BRIN terus melakukan studi literatur. Referensi kita saring dan konfirmasi secara ilmiah, sehingga informasi yang kita peroleh dapat dipertanggungjawabkan dalam publikasi,” papar Reza.

“Prinsipnya, apapun penyakit menular yang dihadapi, kita harus tetap waspada. Melalui riset dan inovasi, kita dapat mendorong kemandirian untuk menghasilkan obat dan vaksin. Karena kita punya sumber daya yang berbeda dengan negara lain,” tutup Reza. (sa/ ed.sl)

Leave a Comment