Kembangkan Cagar Biosfer, BRIN Dukung Pengelolaan Keanekaragaman Hayati – BRIN

Cibinong – Humas BRIN. Kelembagaan Komite Nasional Man and The Biosphere (MAB) UNESCO Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah dibentuk berdasarkan SK Kepala BRIN No. 23/HK/ 2022 dan bertanggung jawab serta melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada Kepala BRIN. Komite Nasional MAB-UNESCO Indonesia mempunyai mandat melaksanakan misi, program dan kegiatan MAB di Indonesia terutama dikaitkan dengan pembangunan dan pengembangan cagar biosfer sebagai wahana pembangunan berkelanjutan.

Purwanto selaku focal point dan Ketua Komite NasionalMAB UNESCO Indonesia, BRIN, menyampaikan bahwa cagar biosfer adalah fokus utama di dalam program MAB di Indonesia. “Kita ingin mengembangkan dan membangun cagar biosfer di Indonesia,” ungkapnya pada acara rutin Apel Pagi sivitas BRIN dengan judul paparan “BRIN dan Pengembangan Cagar Biosfer untuk Mendukung Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Berkelanjutan,” Senin (01/08).

“Ini adalah suatu konsep, di mana untuk mengelola suatu kawasan dengan mengharmonisasikan hubungan antara kepentingan konservasi keanekaragaman hayati dengan kepentingan pembangunan sosial ekonomi berkelanjutan yang didukung logistic support yaitu ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi seperti riset, monitoring, pendidikan lingkungan, dan lain-lain. Konsep ini dibuat oleh Program MAB UNESCO dalam kerangka untuk mempromosikan hubungan yang harmonis antara manusia dan alam juga sebagai wahana untuk pembangunan berkelanjutan,” imbuh Purwanto yang juga Profesor Riset dan Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi, Organisasi Hayati dan Lingkungan BRIN.

Dirinya menjelaskan bahwa fungsi cagar biosfer ini ada tiga. Pertama adalah fungsi konservasi keanekaragaman hayati dan budaya: untuk kontribusi pada konservasi lanskap, ekosistem, spesies, dan variasi genetik. Kedua, fungsi pembangunan ekonomi berkelanjutan: untuk mendorong pembangunan eskonomi dan manusia yang berkelanjutan: untuk mendorong pembangunan ekonomi dan manusia yang berkelanjutan secara sosial budaya dan ekologis. Ketiga, fungsi dukungan logistik: untuk memberikan dukungan untuk penelitian, pemantauan, pendidikan dan pertukaran informasi yang berkaitan dengan isu-isu lokal nasional dan global konservasi dan pembangunan.

Baca Juga  Kepala OREM – BRIN Dorong Para Perisetnya Aktif Mencari Pendanaan Eksternal – BRIN

Dijelaskan Purwanto, keunggulan dari penerapan cagar biosfer sangat menarik banyak pihak karena konsep ini merupakan konsep pengelolaan kawasan terbaik saat ini yang menggabungkan kepentingan ekologi dengan kepentingan ekonomi yang di dukung ilmu pengetahuan dan teknologi. Kawasan ini juga menjadi wahana bagi penerapan pembangunan berkelanjutan berbasis iptek, kemudian mewadahi berbagai kepentingan para pihak dan menghilangkan sekat-sekat egoisme antara banyak pihak; cagar biosfer juga menjadi solusi pemecahan masalah pengelolaan kawasan; cagar biosfer juga menjadi tempat pengembangan iptek dan inovasi yaitu menjadi laboratorium alam kita dan menjadi tempat pengembangan sumberdaya manusia melalui pendidikan lingkungan; dan menjadi wahana pergaulan dunia dan dapat dijadikan sebagai branding produk-produk cagar biosfer.

Selanjutnya Purwanto mengungkapkan manfaat status cagar biosfer dari UNESCO yaitu pengakuan dunia atas keunggulan, status dunia sebagai cagar biosfer dan penghargaan serta kepercayaan dunia bahwa kawasan tersebut sebagai bagian dari jaringan kerja cagar biosfer dunia. “Status dunia ini mempunyai nilai dan peluang yang harus dimanfaatkannya antara lain: untuk kelestarian keanekaragaman hayati dan budaya, networking: ditingkat nasional, regional (seaBRnet) dan global (WNBR); untuk pengembangan Iptek-inovasi, untuk capacity building sumber daya manusia di kawasan cagar biosfer; untuk pengembangan produk cagar biosfer berkelanjutan; pengembangan sosial ekonomi berkelanjutan; dan cagar biofer sebagai branding produk-produk cagar biosfer.

Purwanto juga mengatakan bahwa penerapan cagar biosfer tersebut bermanfaat untuk kehidupan masyarakat di cagar biosfer dan sekitarnya, manfaat bagi kawasan konservasi, manfaat untuk pemerintah, swasta, dan manfaat bagai Indonesia. Untuk itu, dalam membangun cagar biofer di Indonesia perlu diperjuangkan beberapa hal yaitu harus menjadi acuan untuk pembangunan berkelanjutan, meningkatkan posisi tawar kawasan seperti Kawasan Strategi Nasional, menciptakan peluang keunggulan dan nilai penting, memberikan nilai tambah, memberikan manfaat bagi keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam dan ekosistemnya. 

Baca Juga  BRIN dan Universitas Hirosaki-Jepang Bahas Kelanjutan Kerja Sama Riset dan Pengembangan SDM – BRIN

Purwanto menjelaskan bahwa kontribusi MAB Indonesia, BRIN adalah sampai saat ini kita telah mengembangkan 19 cagar biosfer di Indonesia. Sejak 2009 hingga sekarang kita telah menambah 13 cagar biosfer baru.

Menurut UNESCO, Indonesia dalah salah satu negara yang progresif untuk mengembangkan cagar biosfer sebagai wahana pembangunan berkelanjutan. Bila kita lihat luas total cagar biosfer di Indonesia yaitu mencapai 29.901.729, 259 Ha meliputi area inti berupa kawasan konservasi seluas 5.362.516,74 Ha, kawasan zona penyangga seluas 7.618.547, 845 Ha dan area transisi seluas 16.875.935, 375 Ha. Hal ini tentu saja menjadikan kawasan cagar biosfer sangat strategis sebagai laboratorium alam kita untuk mengembangkan IPTEK dan Inovasi, pengelolaan keanekaragaman hayati dan pengembangan masyarakat dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.

“Kontribusi lainnya antara lain meloloskan periodic review 6 cagar biosfer; berperan aktif di jaringan cagar biosfer regional dan global; memenangkan kompetisi Young Scientist Award, Penghargaan UNESCO atas perannya dalam program MAB dan kontribusinya terhadap program pengembangan ilmu alam di Asia Pasific khususnya ilmu lingkungan,” sambung Purwanto.

Diakhir paparannya, Purwanto mengungkapkan perlunya penguatan kelembagaan tingkat locus maupun tingkat nasional dalam pengembangan cagar biosfer, kemudian penguatan aspek legal sesuai dengan UU No. 5 1990 bahwa penetapan dan pengelolaan cagar biosfer harus diatur oleh PP, namun hingga saat ini belum terealisasi.

“Program MAB Indonesia perlu dukungan dan komitmen dari focal point dan berbagai pihak; BRIN sebagai focal point kami harapkan lebih memanfaatkan cagar bisofer sebagai laboratorium alam untuk pengembangan iptek dan inovasi; dalam mengelola cagar biosfer harus mulai corporate karena liverage-nya menjadi lebih tinggi; perlu memikirkan keberlanjutan pendanaan; mempercepat branding produk-produk lokal cagar biosfer, karena hasilnya dapat cepat dimanfaatkan masyarakat; meningkatkan komunikasi untuk pengembangan masyarakat, meningkatkan kerjasama dan komunikasi terutama peran para pihak serta melibatkan kaum muda dan media,” tutupnya. (shf/ ed.sl)

Baca Juga  BRIN Kenalkan Dua Aplikasi Riset Permukaan untuk Implan Gigi dan Deteksi Bakteri – BRIN

Leave a Comment