BRIN Konfirmasikan Waktu Subuh Sudah Tepat – BRIN

Bandung – Humas BRIN. Penentuan waktu ibadah merupakan hal yang menjadi hal yang penting bagi pemeluk agama Islam. Untuk dapat menentukan waktu ibadah, dapat melalui pengamatan astronomi. Badan Pusat Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Antariksa kolaborasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat kajian penyelenggaraan ibadah berbasis riset astronomi.

Pada 28 – 29 Juli 2022 Tim Kemenag melakukan pengamatan fajar di kawasan Observatorium Nasional (Obsnas) BRIN di Timau. Wilayah Timau yang masih gelap, bebas dari polusi cahaya, merupakan tempat yang ideal untuk pengukuran cahaya fajar.

Peneliti Utama bidang Astronomi, Thomas Djamaluddin, mengungkapkan bahwa melalui pengamatan di Timau tersebut, didapatkan hasil yang penting. Proses terbitnya fajar terungkap dengan jelas melalui pengamatan empat instrument yaitu dua alat SQM (Sky Quality Meter) dan dua kamera merekam proses munculnya fajar.

Fajar kadzib atau cahaya zodiak terdeteksi saat mulai pengukuran. Saat itu posisi matahari masih jauh di bawah ufuk, -30 derajat. Fajar kadzib ditandai dengan munculnya cahaya yang makin terang secara perlahan. Secara fisik fajar kadzib tampak menjulang sepanjang ekliptika.

Fajar shadiq atau fajar astronomi sebagai penentu awal subuh ditandai dengan munculnya cahaya yang makin terang secara cepat. Secara fisik fajar shadiq tampak membentang di ufuk timur. “Nah, awal fajar shadiq itu yang sangat penting diamati ulang untuk menjawab pertanyaan publik”, ungkap Thomas.

Dikatakan Thomas, akhir-akhir ini publik dibuat bingung dengan beranggapan seolah-olah waktu subuh pada jadwal shalat Kemenag terlalu awal. Sebelumnya sudah ada pengamatan dilakukan Tim Kemenag di beberapa lokasi juga pengamatan oleh beberapa peneliti. Namun, pengamatan di kawasan Timau kali ini sangat istimewa karena kondisi langit yang bebas polusi cahaya.

Baca Juga  BRIN Perkuat Kerja Sama dengan Universitas Leiden – BRIN

Thomas menyampaikan bahwa salah satu hasil penting pengamatan fajar di kawasan Obsnas Timau BRIN di Kupang oleh Tim Kemenag, pada Jumat (29/7) adalah bukti nyata bahwa fajar muncul pada saat posisi matahari -20 derajat. Semua alat menghasilkan nilai ketinggian matahari yang sama. Hasil ini mengonfirmasi bahwa jadwal shalat subuh oleh Kemenag sudah tepat.

Kepala Pusat Riset Antariksa, Emanuel Sungging mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh tim Kementerian Agama merupakan rintisan kerja sama untuk memanfaatkan fasilitas BRIN di Gunung Timau, yaitu kompleks Observatorium Nasional. Rencananya tim Kemenag akan meletakkan beberapa sensor yang diharapkan dari kajian riset astronomi dapat dipergunakan pada penguatan pelaksanaan ibadah berbasis riset.

Salah satu contoh hasil riset adalah grafik kurva cahaya yang diperoleh dari pengamatan 29 Juli 2022 mengindikasiakan bahwa kondisi Observatorium Nasional masih sangat bagus untuk memperoleh data-data primer bagi riset. Akan tetapi riset jangka panjang akan sangat diperlukan untuk memberkan hasil yang lebih lengkap pada kajian astronomi guna  mendukung pelaksanaan ibadah. (cw/ed:kg)

Leave a Comment