Budaya Literasi Optimalkan Bonus Demografi 2045 – BRIN

Jakarta – Humas BRIN. Dalam konteks demografi di Indonesia, berdasarkan Sensus Penduduk (SP) Tahun 2020, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 32,56 juta jiwa, dibandingkan dengan hasil SP 2010 sebesar 237,5 juta jiwa, dengan laju pertambahan penduduk per tahun sekitar 1,25 persen. Walaupun terjadi perlambatan dibanding periode 2000-2010 sebesar 1,49 persen, namun jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai sekitar 318,9 juta jiwa, pada tahun 2045.

“Hasil SP ini juga menunjukkan, bahwa proporsi usia produktif, yaitu usia 15 sampai 64 tahun akan mencapai 70,72 persen. Sebaliknya usia manula di atas 65 tahun, akan menyentuh 9,78 persen. Naik cukup besar dibandingkan pada tahun 2010, dan ini akan terus bertambah menjadi 19,9 persen pada tahun 2045,” terang Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko, pada pembukaan kegiatan Bincang Pembangunan Webinar Series ke 5 yang mengangkat tema “Memanfaatkan Bonus Demografi dalam Mengisi Pembangunan dan Memajukan Bangsa” di Jakarta, melalui daring dan luring, pada Jumat (29/7).

Dengan struktur penduduk saat ini dan 10 tahun ke depan, Indonesia masih mengalami masa bonus demografi, bahwa usia produktif dibandingkan dengan non produktif, hampir mencapai 3 kali lipat. Bonus demografi ini, diprediksi akan berakhir pada tahun 2036, saat usia produktif lebih kecil, daripada usia non produktif.

Lebih lanjut, Handoko mengungkapkan, bahwa ukuran kualitas penduduk mengacu kepada indikator di IPM (Indeks Pembangunan Manusia), terdiri dari 3 indikator utama, yaitu pendidikan, kesehatan dan pendapatan. Seiring dengan meningkatnya jumlah usia non produktif yang semakin tinggi pada tahun 2045, juga berakhirnya bonus demografi Indonesia.

“Ke depan, kita perlu melakukan berbagai program dan strategi, untuk mengantisipasi perubahan struktur penduduk. Sepatutnya kualitas manusia Indonesia dapat menunjang, dan berperan dalam pembangunan,” ujar Handoko

Baca Juga  BRIN Dukung INARIE 2022, Pameran Riset dan Inovasi Terbesar di Indonesia – BRIN

Selanjutnya, Handoko menjelaskan tentang beberapa strategi yang dapat dilakukan, agar kita bisa membuat program 1000 hari pertama kehidupan (HPK), hingga lanjut usia, digunakan pada pendekatan siklus kehidupan (life course approach). Sehingga bonus demografi harus kita kaitkan, dengan sisi peningkatan kualitas pendidikan, dan sumber daya manusia.

Menurut Handoko yang paling penting, adalah membuat program pembangunan manusia lewat pembudayaan literasi. Mulai dari keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat. Hal tersebut menjadi aspek penting, dalam memanfaatkan Bonus Demografi sampai tahun 2045. Inilah, yang akan kita bicarakan, dan menjadi fokus pada Bincang Pembangunan Webinar Seri V ini.

“Saya berharap kegiatan rutin Bincang Pembangunan Webinar Series ini, menjadi media bagi kita untuk memahami problematika, dari berbagai isu strategis saat ini. Mudah-mudahan kesempatan ini, dapat dioptimalkan untuk mencari solusi yang komprehensif, dalam merumuskan kebijakan yang tepat,” harap Handoko.

Sebelumnya, Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, Mego Pinandito memberikan pengantar kegiatan bincang kali ini. “Saya berharap, insight dari para pakar melalui diskusi ini, dalam mengisi pembangunan dan memajukan bangsa. Program serta strategi yang tepat, dalam memanfaatkan Bonus Demografi. Hal tersebut agar kualitas manusia dapat menunjang, dan berperan dalam pembangunan,” katanya.

Beberapa narasumber hadir, dan memberikan paparanya, antara lain: Nawawi, Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Subandi Plt. Deputi Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan – BAPPENAS, Femmy Eka Kartika Putri, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Pemuda – Kemenko PMK, dan Sudibjo Alimoeso Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia. (trs/ed. ns,jml)

Leave a Comment