BRIN Bahas Hepatitis, Cacar Monyet, dan PMK sebagai Isu Kesehatan Terkini – BRIN

Cibinong, Humas BRIN. Saat ini perkembangan penyakit sangat dinamis. Beberapa penyakit ada yang menjadi wabah, pandemi, dan membutuhkan perhatian khusus. Sebut saja hepatitis yang belum diketahui penyebabnya (etiologi), monkeypox atau cacar monyet, dan penyakit kuku dan mulut pada hewan ternak.

“Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Kesehatan (ORK) sangat merespon isu-isu kesehatan tersebut. Salah satunya dengan menyelenggarakan webinar yang mengangkat isu terkini di bidang kesehatan Indonesia,” terang Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, Kepala ORK BRIN saat membuka webinar Health Talks Seri #2, yang dihelat Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis (PRKPK), pada Jumat (15/7).

Dirinya mengungkapkan bahwa periset BRIN hadir sebagai narasumber untuk berbagi pengetahuan dan berdiskusi terkait isu-isu kesehatan saat ini. “Upaya ini sebagai wujud nyata BRIN dalam menyebarluaskan pengetahuan kepada para akademisi/periset, di lingkungan BRIN maupun di luar BRIN, profesional di bidang kesehatan, dan masyarakat umum,” sambung Indi.

Hepatitis menjadi salah satu topik hangat yang diangkat dalam webinar ini. Caecilia Sukowati, peneliti Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman (PRBME) membuka webinar dengan paparannya berjudul ‘Three Monts DONS’s: Apa Kabar Acute Hepatitis of Unknown Aetiology’.

Doktor bidang mikrobiologi molekuler ini menjelaskan hepatitis yang menyerang dunia saat ini merupakan hepatitis akut. “Hepatitis adalah penyakit peradangan pada hati yang disebabkan oleh berbagai jenis faktor, termasuk virus. Hepatitis akut dapat sembuh sendiri, tetapi dapat menyebabkan gagal hati fulminan tergantung pada etiologinya. Sebaliknya, hepatitis kronis dapat menyebabkan kerusakan hati,” ujar Caecilia.

Dirinya menjelaskan kontribusi yang dilakukan kelompok riset hepatitis (KRH) pada PRBME adalah melakukan analisis molekuler dan diversitas genetik penyebab hepatits yang tidak diketahui. “Kami melakukan diagnosis ekslusi dari kasus-kasus terduga skrining awal negativitas infeksi virus hepatitis A-E dengan serologi dan konfirmasi secara molekuler dengan PCR. Tak hanya itu kami juga aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait untuk melakukan analisis bioinformatika terhadap sekuens virus dengan membandingkan dengan sekuens virus serupa dari situs repositori sekuens,” jelas Caecilia.

Baca Juga  Tantangan Menghadapi Krisis, Utang Negara Harus Dikelola dengan Baik – BRIN

Ia juga menambahkan saat ini KRH PRBME juga melakukan analisa kekerabatan dan sebaran epidemiologi molekuler dari sampel Indonesia dan dunia. Termasuk mengidentifikasi faktor etiologi lainnya yang dapat menyebabkan dan/atau memperparah peradangan hati. “Karena penyebab belum diketahui, upaya pencegahan terbaik saat ini adalah dengan tetap mejalankan protokol Kesehatan yang ketat,” imbuh Caecilia.

Paparan Zulfikar Syambani Ulhaq, Peneliti PRKPK BRIN tentang ‘Mongkeypox, Apa Yang Harus Kami Ketahui?’ juga menarik untuk disimak. Dokter hewan ini menjelaskan sejak ditemukannya kasus mongkeypox pada 21 Juni 2022 telah tercatat 4000 kasus terkonfirmasi di seluruh dunia.

“Penyakit zoonosis ini ditemukan di negara non endemis, yaitu Eropa, Amerika dan Australia. Padahal penyakit langka ini merupakan endemik Afrika yang disebabkan oleh virus Monkeypox (orthopoxvirus),” ungkap Zulfikar.

Zulfikar mewanti-wanti bahwa semua orang bisa terkena Monkeypox, tetapi data epidemiologis 2022 menunjukkan penyakit ini mayoritas menyerang  pria dengan riwayat MSM. “Monkeypox bukan penyakit infeksi menular seksual klasik, akan tetapi ditularkan selama kontak seksual, tempat tidur/pakaian bersama. Saat ini vaksin untuk upaya pencegahan telah tersedia yaitu Jynneos untuk vaksin preventif dan Acam 2000 sebagai imunisasi aktif,” imbuhnya.

Tak hanya mengancam keselamatan manusia, pada April 2022 keselamatan ternak di Indonesia pun terancam dengan munculnya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. Gunawan, Peneliti pada Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi (PRKMG) berkesempatan menjelaskan tentang PMK pada Ternak dan Hand Foot and Mouth Desease (HFMD) pada Anak

“Perlu diingat bahwa PMK pada Ternak dan HFMD pada Anak adalah penyakit yang berbeda. PMK adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Virus RNA  (genus Apthovirus keluarga Picornaviridae) dan menyerang hewan berkuku genap/belah, terutama sapi, babi, domba, kambing, dan lebih dari 70 spesies hewan liar. Sedangkan HFMD adalah penyakit yang umum terjadi pada anak-anak dan disebabkan oleh enterovirus atau sering disebut flu Singapore,” jelas Gunawan.

Baca Juga  BRIN Ambil Peran Bangun Ekosistem Riset “Silicon Valey” di Cikarang – BRIN

Ia menuturkan PMK terakhir ditemukan tahun 1983 dan tahun 1990 Indonesia mendapat pengakuan bebas PMK. “Hal yang membuat geger pada saat PMK muncul kembali pada April 2022, tentu ini mengancam katahanan pangan kita di bidang peternakan,” ungkap Gunawan.

Gunawan mengingatkan bahwa masyarakat tidak perlu panik, karena PMK tidak bersifat zoonosis. “Konsumsi daging ternak masih aman. Daging, kepala, jeroan, kaki, ekor/buntut dan tulang harus direbus dalam air mendidih minimal selama 30 (tiga puluh) menit,” terangnya

Melengkapi paparan Gunawan sebelumnya, Agus Wiyono Peneliti pada Pusat Riset Veteriner juga berkesempatan memaparkan penyakti terkait PMK yaitu tentang ‘Apa Itu Penyakit Mulut dan Kuku Pada Ternak’. Agus menambahkan gejala klinis PMK sangat  mudah dikenali. Namun terdapat beberapa kendala dalam penanganannya. Sehingga upaya pemberatasan PMK cukup memakan waktu dan  harus benar-benar tuntas.

“Pada PMK terdapat beberapa penyakit diagnosis banding. Hal yang perlu diwaspadai adalah terdapat fenomena hewan sehat, namun membawa virus. Bahkan penyakit ini masih bisa muncul karena berasal dari ternak sembuh dan/atau ternak yang telah divaksin kemudian terinfeksi. Terakhir yang perlu diwaspadai adalah virus PMK dapat disekresikan berbulan-bulan bahkan tahunan pada epitel  faringeal,” ungkap Agus.

Agus menekankan bahwa upaya memberantas PMK membutuhkan komitmen semua pihak. “Harus ada ada official control programme sehingga penyakit ini dapat diberantas dan tidak muncul kembali. Secara alami ternak domestik sebagai carrier sangat kecil dapat menularkan, namun hewan  liar dapat menularkan pada ternak domestic,” pungkas Agus. (sa/ ed.sl)

Leave a Comment