Dampak Perubahan Iklim, Perlu Early Warning System untuk Penyakit – BRIN

Cibinong – Humas BRIN. Perubahan iklim dapat memicu terjadinya penyakit infeksius. Hal ini berimbas pada gangguan kesehatan pada manusia. Kepala Organisasi Riset Kesehatan-BRIN, Ni Luh P Indi Dharmayanti menjelaskan perubahan iklim menyebabkan transmisi penyakit infeksius dan menyebabkan human patogen, human vektor dan human host. Hal ini terjadi karena karena meningkatnya konsentrasi karbon dioksida dan gas-gas lainnya di atmosfer yang menyebabkan efek gas rumah kaca.

“Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada perubahan suhu udara dan curah hujan. Perubahan iklim juga menyebabkan transmisi penyakit infeksius dan menyebabkan human patogen, human vektor dan human host,” kata Kepala Organisasi Riset Kesehatan-BRIN, NLP Indi Dharmayanti saat memberi sambutan padawebinar “Dampak Perubahan Iklim terhadap Penyakit dan Kesehatan” pada Rabu (22/6) secara daring.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Topik Panji Wibawa Dewantara juga mengungkapkan hal senada. Ia mengungkapkan perubahan iklim akan meningkatkan pemanasan global yang menyebabkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan kekeringan. Hal ini juga mempengaruhi urbanisasi, kepadatan penduduk, pembukaan lahan, dan meningkatkan kontak antara manusia dengan lingkungan. Kondisi ini memicu pemotongan siklus ekologi menjadi lebih cepat.

“Sebagai periset kita perlu mengembangkan early warning system untuk penyakit. Sistem monitoring yang bisa memantau resiko dan dampak perubahan iklim terhadap penyakit tular vektor. Tak hanya itu kita juga perlu meningkatkan kapasitas diagnosis dan surveilans penyakit serta meningkatkan  riset-riset untuk melihat lebih dalam dampak perubahan iklim terhadap kesehatan,” ujarnya pula.

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Pusat Riset Veteriner Indrawati Sendow mengatakan, perubahan iklim akan mempengaruhi komposisi atmosfer global yang diamati selama periode tertentu dan berkontribusi secara langsung maupun tidak  langsung terhadap kegiatan manusia.

Baca Juga  BRIN Ambil Peran Bangun Ekosistem Riset “Silicon Valey” di Cikarang – BRIN

 “Zoonosis merupakan penularan penyakit hewan ke manusia dipengaruhi oleh proses lingkungan dan sosioekonomi yang membentuk komunitas hospes reservoir, yang menyebabkan orang dan ternak melakukan kontak dengan satwa liar. Lebih dari 70% penyakit emerging atau zoonosis berasal dari hewan liar seperti kelelawar, kucing, trenggiling, babi, tikus, primata, dan burung liar. Zoonosis tersebut Covid-19, Sars, Mers, Swine Flu, Ebola, Zika, antraks, flu burung,” imbuh Indrawati dalam paparannya berjudul “Perubahan Iklim dan Emerging Zoonosis”.

“Perubahan iklim dengan dinamika vector dan satwa liar, hewan domestik, populasi manusia, dinamika mikroba dapat sebagai early-warning system tentang risiko wabah yang mungkin terjadi pada ternak atau manusia. BRIN berperan sebagai wadah integrasi peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan berkolaborasi dengan semua stakeholder untuk melakukan riset dalam hal mencegah, mendeteksi dan  merespon penyakit emerging/remerging zoonosis melalui pendekatan One Health,” ucap Indrawati.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Pusat Riset Biomedis Novaria Sari Dewi Panjaitan mengungkapkan bahwa perubahan iklim tidak hanya menyebabkan stres pada manusia, hewan dan tumbuhan, tetapi juga terhadap mikroba.

“Dalam menghadapi dampak perubahan iklim, gen dalam sel mikroba mengalami mutasi agar tetap hidup. Setelah itu, bakteri akan berkembang dan bisa membahayakan manusia. Pembentukan biofilm bakteri adalah saat bakteri berhasil menempel pada permukaan yang ada di sekitarnya seperti pembuluh darah, kateter pasien, bahkan meja ataupun lantai yang tidak pernah dibersihkan,” ujar Novaria.

“Di dalam biofilm bakteri saling berkomunikasi untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi. Sel bakteri yang mati merupakan sumber makanan bakteri yang hidup. Akan menjadi masalah jika sel-sel bakteri tersebut bertahan hidup  dan melanjutkan perjalanan ke permukaan lain.  Beberapa bakteri yang bisa membuat biofilm adalah P. aeroginosa, E. coli, K.pneumoniae, S.aureus, semuanya merupakan penyebab penyakit,” ujar Novaria.

Baca Juga  Hari ini, 24 Pejabat di Lingkungan BRIN Resmi Dilantik – BRIN

Selain menyebar melalui kontak fisik, kini penyakit pun dapat menyebar melalui udara. Peneliti Pusat Riset Kedokteran Klinis dan Pre Klinis Telly Purnamasari menjelaskan airborne disease adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme yang ditularkan melalui transmisi udara. Berbeda dengan Penyakit Tular Vektor (PTV) yang membutuhkan agen organisme lain sebagai perantara, maka airborne disease dapat diartikan sebagai penyakit menular langsung dengan transmisi udara antara lain pnemunia, ISPA, TBC, dan diare.

“Perubahan iklim memberi dampak negatif pada sektor kesehatan terutama pada penyakit menular. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Adaptasi dan mitigasi perlu terus dilakukan dan meningkatkan riset terkait dampak perubahan iklim,” ujar Telly.

Di sisi lain Yurika Fauzia Wardhani,Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi menyoroti bahwa perubahan iklim juga dapat mempengaruhi kesehatan mental secara langsung dengan mengekspos orang pada trauma. Namun tidak dirasakan pada setiap kelompok masyarakat, tergantung banyak faktor diantaranya status sosial, jenis kelamin, ekonomi dan usia.

“Perubahan iklim menimbulkan istilah baru yaitu eco-anxiety dan climate-anxiety. Perubahan iklim disebabkan oleh alam dan manusia menimbulkan bencana dan berdampak pada kesehatan fisik dan mental manusia. Beberapa hal bisa kita lakukan untuk mengatasi dampak kepada manusia yaitu, mendorong resiliensi, menumbuhkan rasa optimisme, melibatkan profesional kesehatan mental dan memberlakukan kebijakan untuk memitigasi perubahan iklim di semua tingkat pemerintahan,” urai Yurike dalam paparannya dalam webinar yang dipandu oleh Harimurti Nuradji, selaku Kepala Pusat Riset Veteriner – BRIN. (ew/ed:sa,jml)

Leave a Comment