Tingkatkan Kapasitas Periset Indonesia Melalui Kolaborasi Riset ALICE-CERN – BRIN

Cibinong – Humas BRIN. A Large Ion Collider Experiment (ALICE) adalah salah satu fasilitas Organisasi Eropa untuk riset nuklir yang mengakselerasi proton dan ion dengan energi yang tinggi.   Kolaborasi riset yang dimulai pada tahun 2014 ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas periset melalui interaksi dan kolaborasi dengan para periset dari berbagai penjuru dunia, dengan topik-topik riset yang terkini dan frontier di bidangnya serta membuka kesempatan untuk dapat mengembangkan apa yang telah dilakukan di sana pada saat kembali ke Indonesia.

“Saat ini kita sedang memproses addendum perjanjian dengan ALICE-CERN yang  diharapkan dapat menambah kolaborator dari Indonesia.  Dengan webinar yang digelar kali ini diharapkan menjadi media untuk dapat memberikan informasi terkait kerjasama dan memberikan motivasi untuk dapat terus berkontribusi khususnya para periset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” ungkap Budi Prawira Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika BRIN, dalam acara webinar yang dihelat Pusat Riset Komputasi BRIN dengan tema “Aspek Riset Elektronika, Informatika, Fisika Energi Tinggi dan Nuklir pada Kolaborasi Riset Internasional ALICE-CERN” secara daring, pada Selasa (21/6).

Budi juga mengungkapkan, sementara akan diusulkan partisipasi lembaga-lembaga Indonesia dengan pendirinya adalah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Indonesia (UI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang akan dinamakan ALICE Indonesia atau disingkat ALICE-ID. “BRIN akan menjadi lembaga utama di ALICE – ID dan bertanggung jawab untuk menyelenggarakan cluster sekretariat, penyediaan sebagian besar infrastruktur penelitian dan menyediakan dana untuk partisipasi periset atau mahasiswa,”jelasnya.

“Saat ini kami juga sedang menjajaki program Degree by Research yang merupakan program gelar pascasarjana dengan skema penelitian yang nantinya akan disediakan infrastrukturnya oleh UI, IPB dan BRIN untuk mendidik mahasiswa magister, doctoral dan pemberian gelar,” lanjut Budi.

Baca Juga  Solusi Menutup Kesenjangan Hasil Tanaman Serealia di Indonesia – BRIN

Sementara itu Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Ratno Nuryadi menyampaikan harapannya webinar ini akan dapat menggali potensi kerjasama dan menjadi ajang sosialisasi, sharing session dari periset yang berpengalaman sehingga dapat mengeksplor peluang yang dapat diberikan untuk berkontribusi pada kolaborasi di tingkat global.

“Mudah-mudahan webinar ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang lebih luas kepada kita semua, sekaligus bisa melahirkan diskusi yang bersifat konten ilmiah dan juga peluang-peluang kolaborasi dengan license ke depan,” ujar Ratno.

Selanjutnya narasumber webinar yang pertama, Suharyo Sumowidagdo, Periset dari Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN menjelaskan gambaran umum tentang ALICE-CERN. “ALICE-CERN merupakan sebuah konsorsium, sebuah kolaborasi yang terdiri dari banyak institusi yang sepakat untuk bekerjasama dalam mengerjakan suatu topik penelitian yang memerlukan konstruksi atau pembuatan sebuah instrumen ilmiah yang besar (dalam hal ini ALICE) yang terletak di suatu lokasi khusus (dalam hal ini CERN),” paparnya.

Menurut Suharyo, ALICE dalam pengoperasionalnya memerlukan waktu lama dan membutuhkan banyak kepakaran dan sumber daya manusia. Suharyo juga menjelaskan instrumen, rencana jangka panjang dan peluang kerjasama dari ALICE. 

Narasumber yang kedua, Kepala Pusat Riset  Sains Data dan Informasi BRIN, Esa Prakasa menyampaikan materinya tentang Riset Informatika pada Kolaborasi ALICE-CERN: Development of Vision-based Alghorithms for Inspecting Sensor Chip of Inner Tracking System (ITS) Detector.

“Beberapa hal yang kami kerjakan selama berkolaborasi di kegiatan ALICE inti utamanya adalah memfoto permukaan baik sensor itu sendiri maupun bagaimana proses pemasangan sensor tersebut, kemudian dihitung menggunakan algoritma vision sebagai pembanding,” jelas Esa.

Esa menyimpulkan dalam paparannya bahwa algoritma vision sangat potensial untuk diterapkan disemua tahap konstruksi detector terutama sebagai hasil untuk memvalidasi dari hasil yang diberikan oleh mesin yang lain. Kemudian dengan dipastikan proses konstruksi yang bagus akan membantu untuk menghasilkan data-data eksperimental yang lebih akurat. Algoritma yang dikembangkan juga sangat potensial untuk diterapkan di berbagai aktivitas manufaktur.

Baca Juga  BRIN Hasilkan Larutan Pelapis, Produk Turunan Sawit untuk Memperpanjang Kesegaran Buah – BRIN

Pada kesempatan yang sama, Plt. Kepala Pusat Riset Komputasi BRIN, Rifki Sadikin menceritakan keterlibatan Computing Working Group di ALICE yaitu software, physics data processing and computing coordination yang terlibat di bagian Reconstruction and Calibration. Aplikasi yang dibuat untuk membantu konstruksi dari jalannya detector tersebut.

Rifki juga menjelaskan simulasi data rekonstruksi yang dibuat oleh timnya dan sudah berkontribusi dalam implementasi coding sebuah modul di software analysis experiment ALICE. “Implementasinya saat ini masih berlanjut pada tahap menulis paper, membuat laporan dan juga implementasi di accelerator computing,” jelas Rifki.

“Pada akhir tahun 2019 sampai 2021 tim melakukan pendekatan data science terkait dengan space-charge distortion berharap mendapatkan model yang baik sehingga bisa melakukan koreksi dalam waktu yang lebih cepat,”pungkas Rifki. (aa/ ed.sl)

Leave a Comment