BRIN Tawarkan Solusi Atas Kendala BRIDA Provinsi Bali – BRIN

Jakarta – Humas BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021, salah satu tugasnya adalah melakukan monitoring, pengendalian, dan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).

Badan Riset dan Inovasi Provinsi Bali (BARI) yang saat ini telah menjadi BRIDA Pemerintah Provinsi Bali, memiliki cerita keberhasilan dalam menjalankan fungsinya. BRIN melalui Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah menggelar Sharing Session Best Practice BARI Provinsi Bali secara daring, Selasa (21/06).

Sebagai informasi, pembentukan BARI didasarkan pada Peraturan Daerah Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, dan setelah adanya Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021, nomenklatur BARI sekarang diubah menjadi BRIDA.

Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah, Yopi mengatakan, Pemerintah Provinsi Bali menjadi pioner bagi daerah lainnya dalam pembentukan BRIDA. “BRIDA Bali yang dulunya bernama BARI merupakan pioner terbentuknya BRIDA di Indonesia. Melalui kegiatan ini, kita ingin mengetahui berbagai informasi terkait pembentukan BRIDA serta melakukan tugas dan fungsinya terkait litbangjirap dan inovasi di daerah,” kata Yopi.

Informasi yang disampaikan oleh BRIDA Bali, kata Yopi akan dijadikan bahan evaluasi untuk memperkuat BRIDA dalam menjalankan tugasnya. Selain itu, Yopi meminta agar seluruh Direktorat yang ada di bawah koordinasinya untuk melakukan inventarisasi kebutuhan BRIDA di bidang riset untuk difasilitasi melalui mekanisme yang disediakan oleh BRIN.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Bali, I Made Gunaja menjelaskan tugas dan fungsi BRIDA Provinsi Bali sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 56 Tahun 2021. “BRIDA bertugas melaksanakan riset dan inovasi serta pengelolaan kekayaan intelektual provinsi yang mendukung tercapainya tujuan pembangunan provinsi,” kata Gunaja.

Baca Juga  BRIN dan PT API Jalin Kerja Sama, Perluas Kolaborasi Riset dan Inovasi – BRIN

Dalam menjalankan tugasnya, kata Gunaja, BRIDA berkolaborasi dengan berbagai stakeholder lainnya terutama dari pihak akademisi atau perguruan tinggi. Kerja sama ini sangat dibutuhkan mengingat BRIDA Provinsi Bali hingga saat ini belum mempunyai tenaga fungsional peneliti dan perekayasa.

“Untuk mencetak tenaga peneliti atau perekayasa dari personil yang ada saat ini akan membutuhkan waktu yang lama, sehingga untuk saat ini kami berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi untuk melakukan kajian dan riset-riset,” tambahnya.

Terkait struktur organisasi BRIDA Provinsi Bali, ia menambahkan, terdapat bagian pengelolaan hak kekayaan intelektual (HKI). Fungsi bagian HKI inilah yang nantinya diharapkan mampu mendaftarkan kekayaan intelektual yang dimiliki oleh masyarakat Bali agar kekayaan tersebut tidak diklaim oleh masyarakat lainnya.

Hal yang tidak kalah pentingnya menurut Gunaja, adalah fungsi komersialisasi, yang mempunyai tugas menghilirkan hasil-hasil inovasi kepada masyarakat luas. “Kita nanti mencarikan partner-partner komersial untuk menangkap hasil-hasil inovasi dan kekayaan intelektual yang nantinya dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat di Bali,” imbuhnya.

Permasalahan BRIDA

Berbagai permasalahan yang hingga kini belum terpecahkan di BRIDA Bali menurut Gunaja, antara lain hasil-hasil riset sebagian besar belum terimplementasikan di dunia usaha dan industri sehingga hal ini belum memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan kesejahteraan masyarakat. Tema riset yang dilaksanakan tidak sesuai dengan kebutuhan daerah juga menjadi permasalahan di BRIDA.

Permasalahan lainnya, belum terbangunnya kolaborasi dan integrasi antara lembaga riset dengan masyarakat pengguna, belum optimalnya pemanfaatan pendanaan riset yang tersedia. “… yang juga perlu mendapat perhatian adalah belum terbangunnya pangkalan data hasil riset dan inovasi yang terintegrasi,” tuturnya. “Masih banyak kekayaan intelektual komunal dan personal yang belum terlindungi,” tambahnya.

Baca Juga  Wujudkan SDGs Melalui Pengolahan Sampah Yang Tepat – BRIN

Menanggapi berbagai kendala yang muncul di BRIDA Provinsi Bali, Plt. Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah, Agus Widodo menawarkan sejumlah solusi. Ia mengatakan, BRIN melalui berbagai kedeputian yang ada akan saling berkolaborasi untuk mencari solusi atas kendala yang terjadi di daerah baik terkait SDM, pendanaan, dan infrastruktur.

“Terkait dana riset, kami di BRIN sedang mengkompilasi berbagai skema fasilitasi pendanaan yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh para periset di BRIDA,” kata Agus.

Adapun permasalahan terkait pengelolaan HKI, dijelaskan Agus, BRIN akan mengajarkan bagaimana mengelola HKI yang baik sehingga kekayaan intelektual yang dimiliki masyarakat Bali dapat dimanfaatkan dengan baik.

Sedangkan terkait kekurangan SDM sebagai peneliti dan perekayasa, Agus menawarkan untuk dapat berkoordinasi dengan Balai Teknologi Industri Kreatif Keramik (BTIKK) yang berlokasi di Bali. Para periset dan perekayasa yang sebelumnya ditugaskan di BTIKK dapat diajak untuk membantu kegiatan riset di BRIDA.

“Banyak periset atau perekayasa yang dulunya di BTIKK dapat dimanfaatkan untuk membantu kegiatan di BRIDA, namun tentunya mengikuti skema yang ada, apakah mereka tetap sebagai pegawai BRIN atau dialihkan menjadi (pegawai) BRIDA. Selebihnya nanti tim dari BRIN akan terus berkomunikasi untuk mencari solusi atas kendala yang ada di BRIDA,” pungkasnya. (pur/ ed: drs)

Leave a Comment