Konservasi Tumbuhan Terancam Kepunahan, Salah Satu Fokus Riset BRIN Bidang Lingkungan Hidup – BRIN

Bali – Humas BRIN. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah platform global terbesar untuk pelestarian lingkungan dan dirayakan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Juni demi meningkatkan kesadaran global akan pentingnya perlindungan alam dan planet bumi.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2022 diprakarsai oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan diperingati setiap tahun pada 5 Juni sejak 1973, sedangkan  penetapannya dilakukan sekaligus menandai dibukanya Konferensi PBB tentang lingkungan hidup manusia yang berlangsung pada 5 – 16 Juni 1972 di Stockholm.

Tahun ini kembali diperingati dengan tema yang sama seperti 50 tahun yang lalu yaitu “Hanya satu Bumi” atau “Only One Earth” (Sustainably in Harmony with Nature). Saat ini Bumi menghadapi tiga krisis yang mengkhawatirkan. Iklim memanas terlalu cepat bagi manusia dan alam untuk beradaptasi dibarengi dengan polusi yang meracuni udara, tanah, dan air serta hilangnya habitat dan tekanan lainnya bagi sekitar 1 juta spesies terancam punah.

Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, melalui Pusat Riset Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya, dan Kehutanan BRIN, akan memfokuskan salah satu kegiatan risetnya pada konservasi tumbuhan terancam kepunahan.

Andes Hamuraby Rozak, Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya dan Kehutanan (PRKTKRK) menyatakan fokus riset tersebut terutama pada didapatkannya teknologi perbanyakan tumbuhan terancam kepunahan. “Riset tersebut bisa mendukung program reintroduksi dan/atau reinforcement sehingga populasi tumbuhan di alam bisa meningkat yang pada akhirnya akan menurunkan status konservasinya yaitu dari yang terancam menjadi tidak terancam.” ungkapnya.

Andes menambahkan, semua riset tersebut bertujuan untuk mendukung program nasional dan internasional terkait konservasi flora terutama sejalan dengan the Post-2020 Global Biodiversity Framework yang sedang dibahas oleh Convention on Biological Diversity (CBD), di mana visi dari kerangka tersebut adalah “living in harmony with nature in 2050”.

Baca Juga  Smart Village Solusi Percepatan Pembangunan Desa – BRIN

Harmonis dengan Alam

Sejak lampau manusia hidup tergantung pada hutan dengan beragam sumber daya yang dimilikinya, oleh sebab itu kelestariannya harus dijaga. Demi menjaga kelestarian hutan banyak komunitas di belahan dunia mengeramatkan hutan. Kegagalan untuk melestarikan hutan keramat tidak hanya menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, terutama spesies yang terancam punah, tetapi juga hilangnya warisan budaya dan kesejahteraan manusia (Griffiths dkk., 2020).

Hutan keramat/suci adalah hutan alam yang dilestarikan atas dasar agama kepercayaan dan praktik budaya masyarakat lokal dan ditemukan di setiap benua, kecuali Antartika, serta melibatkan banyak agama utama. Hutan keramat sering berupa hutan tua yang memainkan peran penting dalam konservasi keanekaragaman hayati (Frascaroli dan Verschuuren, 2016).

Praktek hutan keramat/suci juga dapat ditemukan di Bali. Praktek ini dapat menjadi jalan potensial untuk secara efektif menggabungkan konservasi spesies pohon terancam dengan pelestarian budaya (Undaharta dan Wee, 2020).

Hutan keramat/suci adalah umum di Bali; pulau berpenduduk mayoritas Hindu ini mempertahankan budayanya yang kaya tradisi budaya di tengah modernisasi. Di sini, hutan keramat biasanya terletak berdekatan dengan pura, tempat pemujaan atau tempat pemakaman/kremasi dan dikelola oleh masyarakat sekitar. Pohon-pohon keramat dihiasi dengan kain bercorak kotak hitam-putih/poleng pada pangkal batang untuk mengidentifikasi mereka sebagai pohon yang disucikan. Daun, bunga, biji dan buah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk ritual, namun tidak ditebang.

Bali adalah satu-satunya tempat di mana pohon Dipterocarpus hasseltii (di Bali dikenal dengan nama kayu phala) dihormati sebagai pohon suci. Pohon-pohon ini tumbuh di Desa Sangeh, kabupaten Badung-Bali yang dikenal oleh masyarakat lokal sebagai Alas Phala.

Buah D. hassseltii digunakan sebagai sarana persembahan penting dalam upacara kremasi dan upacara keagamaan lainnya. Karena makna budaya ini, pohon-pohon itu dilestarikan di hutan keramat dan bertindak sebagai sumber pendapatan bagi penduduk setempat masyarakat melalui penjualan benih. Pemanfaatan buah D. hasseltii dalam upacara keagamaan di Bali berimplikasi besar bagi pelestariannya. Saat ini, Sangeh adalah satu-satunya habitat D. hasseltii yang tersisa di luar kawasan lindung di Bali.

Baca Juga  Penyandang Disabilitas Berhak Atas Keadilan, Partisipasi Politik, dan Hak Sipil Lainnya – BRIN

Konservasi D. hasseltii di hutan keramat dan budayanya signifikansi berjalan seiring; Yang satu tidak dapat hidup tanpa yang lainnya. Ini kombinasi efektif keanekaragaman hayati dan konservasi budaya dapat dikaitkan dengan tiga faktor: (1) penatagunaan yang jelas, (2) identitas budaya yang kuat, dan (3) ekowisata.

Hutan keramat D. hasseltii terletak bersebelahan dengan pura desa dan sebagian besar dikelola oleh penduduk setempat masyarakat; satu-satunya hutan keramat terbesar (dan tertua), dengan perkiraan pembentukan 400 pohon dewasa, dikelola oleh konsorsium unik antara Badan Konservasi Sumber Daya Alam Bali (pemerintah) dan masyarakat lokal.

Kepemilikan yang jelas tidak hanya memperkuat peran masyarakat lokal sebagai penjaga, tetapi juga membantu mencegah pelanggaran. Selain itu, spiritualisme dan kepercayaan Bali menjunjung konsep harmonis yang berhubungan dengan alam (Filsafat Tri Hita Karana). Hal tersebut tercermin dalam banyak aspek kehidupan orang Bali. Identitas budaya ini ada di mana-mana mencakup lintas generasi dan status sosial, sehingga memastikan kesinambungan praktek pelestarian hutan keramat.

Ekowisata memiliki dukungan ekonomi terbesar untuk keberlanjutan hutan keramat. Habitat Hutan Sangeh juga menjadi rumah bagi kawanan kera dan berfungsi sebagai objek wisata utama dengan hampir 30.000 pengunjung setiap tahun. Sebagai hasilnya, ekowisata memberi insentif untuk konservasi tumbuhan ini.

Diperlukan tindakan langsung untuk secara efektif menggabungkan konservasi pohon yang terancam spesies dengan pelestarian budaya hutan keramat. Melalui pengelolaan berkelanjutan, hutan keramat dapat terus berkontribusi terhadap keanekaragaman konservasi hayati dan bertindak sebagai simbol penghormatan manusia terhadap alam. (gws, igp)

Sumber:

Policy forum: Sacred forests – An opportunity to combine conservation management of threatened tree species with cultural preservation

Ni Kadek ErosiUndahartaabAlison K.S.Weea

Baca Juga  Peluang Jabatan Fungsional Bagi Periset di Daerah – BRIN

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1389934120303105

Leave a Comment