Potensi Lahan BRIN di Subang Dukung Riset Tanaman Hortikultura – BRIN

Bandung – Humas BRIN. Infrastruktur riset merupakan salah satu instrumen krusial dalam membangun ekosistem riset yang maju di Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bekerja memastikan aset-aset infrastruktur riset yang ada bisa dioptimalkan bagi kepentingan ilmu pengetahuan. Salah satu upaya tersebut tercermin dalam tinjauan singkat Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, saat berkunjung ke Ciater, Subang, Kamis (19/5).

Didampingi Kepala Organisasi Riset (OR) Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, Handoko menyurvei tanah seluas kurang lebih 1,5 hektar, yang berpotensi menjadi sarana dan prasarana penelitian. “Kita harus lihat satu-satu dan kemudian kita lakukan perencanaan mau diapain,” jelas Handoko.

Sementara itu, Kepala OR Pertanian dan Pangan, Puji Lestari memandang positif sokongan yang BRIN selama ini berikan bagi riset di bidang pertanian dan pangan. Puji berpendapat, lahan yang sedang ditinjau ini sangat cocok untuk penelitian tanaman hortikultura.

Selain berada di ketinggian yang mencapai 800 MDPL, ekosistem dan lokasinya yang dekat dengan Pusat Riset Teknologi Tepat Guna (PR TTG) BRIN juga amat strategis sebagai laboratorium uji lapang. “Sekaligus juga konsolidasi internal OR Pertanian dan Pangan,” jelasnya.

Kegiatan riset OR Pertanian dan Pangan, sebut Puji, sering kali melibatkan proses pemuliaan dan penyilangan. Hasil-hasil persilangan tersebut nantinya perlu diuji di rumah kaca untuk kemudian di uji lapang.

“Kita menyebutnya uji daya hasil pendahuluan,” terangnya. Proses berlanjut pada Uji Daya Hasil Lanjutan (UDHL) yang secara lingkungan dan ekosistem harus sesuai, dan lahan ini memiliki potensi tersebut. “Ini salah satu aset yang bisa mendukung,” tambahnya.

Dirinya menginformasikan bahwa, OR Pertanian dan Pangan tengah menginventarisir berbagai infrastruktur riset yang dimiliki hingga saat ini. Sebagai contoh, peralatan analisis laboratorium berada di Cibinong sebagai pusatnya. Ada juga di PR TTG Subang, serta kampus Serpong yang bisa mendukung riset-riset di bidang agroindustri dan peternakan.

Baca Juga  Konferensi Nasional MOST UNESCO, BRIN Kawal Penyusunan Peta Jalan Riset Disabilitas – BRIN

Kendati demikian, ada pula instrumen riset yang perlu dilengkapi, seperti peralatan pemuliaan untuk analisis generasi-generasi dari hasil populasi persilangan. Termasuk Rumah Kawat dan Rumah Kaca yang jumlahnya perlu ditambah. “Sekarang kan ada untuk basis biodiversitas atau koleksi,” jelasnya.

Puji berharap peninjauan serta konsolidasi yang berlangsung hari ini bisa menjadi bentuk dukungan nyata bagi riset di bidang pertanian dan pangan. Tidak hanya dari segi fasilitas saja, melainkan juga program-program riset mengenai pertanian dan pangan yang ada di BRIN.

Meninjau potensi aset di Subang, Handoko meyakini, BRIN mampu meningkatkan infrastruktur riset di bidang pertanian dan pangan. Tidak terkecuali riset-riset di bidang lab science secara umum. Kendati demikian, konsolidasi dengan seluruh pemangku kepentingan riset, terutama peneliti, menjadi opsi utama yang harus dilakukan agar aset dan infrastruktur yang ada bisa efektif dan efisien bagi penelitian.

Ia mengaku, perlu mengecek dan berdiskusi lebih jauh dengan para Kepala OR dan Pusat Riset, guna memaksimalkan aset-aset yang BRIN miliki. Aset seperti lahan yang saat ini ditinjau adalah kekayaan negara yang wajib dikelola oleh BRIN dengan baik.

Karenanya, perlu koordinasi dan penanganan yang tepat agar asas manfaatnya bisa segera terwujud dan tidak menjadi beban bagi negara. “Kita banyak ‘harta karun’ tersembunyi,” selorohnya.

Plt. Kepala PR TTG, Achmat Sarifudin menerangkan, lahan yang tengah ditinjau saat ini pernah menjadi stasiun pengamatan cuaca dan atmosfer LAPAN. Selepas melebur ke BRIN, lahan ini memiliki potensi bagus sebagai laboratorium lapangan di bidang pertanian. “Mungkin bisa cocok untuk mendukung riset di pertanian,” katanya.

Ia melanjutkan, PR TTG memiliki fokus dalam litbangjirap hasil-hasil pertanian juga pengolahannya, sehingga konsolidasi hari ini sangat penting bagi agenda riset PR TTG ke depan. “Mungkin di tahun ini, 90 persen ke arah peralatan pengolahan hasil-hasil pertanian,” pungkasnya (as/ ed: tnt).

Baca Juga  Ragam Bahasa dan Suku di Gili Trawangan Jadi Fokus Penelitian Peserta PIRN – BRIN

Leave a Comment