BRIN Bersiap Work from Anywhere – BRIN

Bandung – Humas BRIN. Perkembangan teknologi informasi memungkinkan pegawai untuk berkarya dari mana saja. Wacana Work from Anywhere (WFA) bagi ASN belakangan semakin mengemuka, termasuk bagi ASN di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). BRIN bahkan telah menyiapkan beragam lokasi Co-Working Space (CWS) yang tersebar di berbagai tempat, mulai dari Jakarta, Surabaya, hingga Papua.

BRIN juga terus menyempurnakan fasilitas infrastruktur yang dimiliki untuk menyediakan lokasi kerja bersama yang memadai. “Konsep flexible time, flexible space yang sudah kita implementasikan sangat sesuai dengan karakter periset secara umum,” tutur Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, ketika mengunjungi Kawasan Nuklir Bandung (KNB), di Jalan Taman Sari, Bandung, Rabu (18/5).

Handoko mengatakan, dirinya telah menerapkan kebijakan skema bekerja flexible time, flexible place sejak tahun 2019, khususnya ketika memimpin LIPI. Wacana bekerja dari mana saja yang digulirkan pemerintah juga amat sesuai dengan karakteristik organisasi BRIN yang besar tapi lincah.

Sebagai lembaga penelitian terbesar di Indonesia, konsep WFA dapat membantu mengakomodasi integrasi periset dari berbagai Kementerian/Lembaga, sehingga tetap produktif dalam dinamika organisasi yang tengah berlangsung. “Pendekatan ini menjadi sangat relevan,” serunya.

Plt. Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Yan Rianto, turut menyetujui pernyataan Kepala BRIN. Dirinya percaya jika WFA atau Work From Home (WFH) adalah keniscayaan.

“Karena pertama macet, kemudian infrastruktur komunikasi sudah sedemikian maju, sehingga bisa dilakukan dimana saja,” tutur Yan, di sela-sela peninjauan kesiapan salah satu gedung KNB yang akan menjadi co-working space.

Gedung C KNB memiliki luas bangunan mencapai 2 ribu meter persegi, dan terdiri dari 3 lantai, memiliki potensi menjadi tempat kerja bersama lainnya bagi para ASN BRIN.

Baca Juga  BRIN Kenalkan Teknologi Neutron Texture Diffractometer pada Riset Dasar dan Industri di Indonesia – BRIN

Yan hendak memastikan kelayakan gedung yang sudah berusia 40 tahun tersebut, sekaligus momentum mengintegrasikan laboratorium supaya lebih efektif dan efisien. “Peninjauan ini menjadi penting karena setelah melalui pengecekan sebelumnya, ternyata lantai bangunan sudah miring dengan elevasi sekitar 20 cm, harus ditinjau ulang tapi belum diputuskan akan seperti apa,” tegasnya.

Tidak hanya meninjau Gedung C KNB, rombongan juga memantau progres pembangunan Gedung Bandung Advanced Science and Creative Engineering Space (BASICS) BRIN, di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Cisitu. Berdasarkan perencanaan, Gedung BASICS akan rampung pada November mendatang.

BASICS memiliki 2 dua ruang lingkup, yaitu pengadaan dua buah gedung atau menara, yang di dalamnya akan berisi fasilitas-fasilitas riset, berupa ruangan-ruangan laboratorium lengkap dengan peralatan riset dan fasilitas-fasilitas pendukung.

“CWS bisa pindah ke sini, apalagi Menara 1 dan Menara 2 besar sekali dan bisa menampung banyak orang,” tutur Yan.

Dirinya memperkirakan, kapasitas KST Bandung bisa mencapai seribuan orang. Terlebih, Gedung 80 turut difungsikan sebagai CWS yang dilengkapi ruang-ruang untuk tenant.

Yan berharap, beberapa proyek infrastruktur BRIN bisa selesai tahun ini. Khususnya 3 KST yang berada di Bandung, Cibinong, dan Serpong. Salah satu KST yang berada di Yogyakarta juga akan segera mulai dibangun pada tahun mendatang dengan target tamam dalam jangka waktu satu setengah tahun.

Pengelolaan Fasilitas Riset Nuklir Utamakan Keamanan

Plt. Kepala Organisasi Riset (OR) Tenaga Nuklir BRIN, Rohadi Awaludin, menyambut baik peninjauan gedung di KNB. Ia yakin, pengelolaan infrastruktur akan lebih baik dan memberikan dampak positif bagi hasil riset.

Ia menambahkan, fasilitas riset nuklir memiliki ciri khas dan memerlukan penanganan khusus pada beberapa bagian. Aspek paling utama menurutnya ialah keamanan, mengingat zat radioaktif memiliki radiasi yang memerlukan aturan ketat dalam pemanfaatannya.

Baca Juga  Teknik Analisis Nuklir untuk Lingkungan dan Pangan – BRIN

Rohadi terbuka jika nanti misalnya, lokasi preparasi bahan riset dilakukan di tempat berbeda selama mengedepankan keamanan. “Misal preparasi di sana (Cisitu) dan di bawa ke Tamsar (Tamansari) untuk radiasi,” cetusnya.

Karenanya, pihaknya akan menunggu rekomendasi akhir dari Tim Evaluasi BRIN dan Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA). Tim dari IAEA diharapkan bisa memberikan rekomendasi terkait reaktor yang berada di KNB, apakah masih bisa lanjut atau tidak.

Satu hal yang pasti, sambung Rohadi, jika Cisitu menjadi alternatif, maka harus disiapkan infrastrukturnya. Beberapa hal yang perlu disiapkan, seperti pengukuran zat radioaktif hingga pembangunan pelindung-pelindung khusus untuk menjaga keselamatan dan kedaruratan nuklir.

“Kita mesti siapkan layaknya rumah sakit untuk zat radioaktif,” katanya.

Dirinya percaya, perubahan yang tengah diupayakan akan mampu mengungkit kapasitas dan kapabilitas riset yang dimiliki. “Nantinya orang dan sampel yang bergerak tapi dengan fasilitas yang lebih baik,” pungkasnya.

Agenda kunjungan Kepala BRIN ditutup dengan rapat terbatas bersama Kepala OR Elektronika dan Informatika, beserta para Kepala Pusat Riset. Kemudian berlanjut keesokan harinya, untuk meninjau lahan percobaan bidang pertanian di daerah Ciater, Subang (as/ ed: tnt).

Leave a Comment